|
||||
| Home Synopsis Cast Contacts | ||||
![]() Melbourne Brisbane ![]() |
Get the Flash Player to see this player.
An epic story about Supriyadi's (Indonesian national hero) journey in leading Indonesian soldiers through the upheaval of Japanese occupation in Indonesia. Contact
For information/enquiries: Melbourne Brisbane Ticket Agents Melbourne Brisbane
Synopsis
English Indonesian “Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan didorongkan dengan keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya” Namaku Supriyadi (2009, Replique Production) menceritakan tentang perjuangan anak bangsa yang berkeinginan luhur untuk melihat tanah air merdeka. Cerita semi-fiksi yang diilhami oleh pemberontakan tentara PETA (PEmbela Tanah Air) di Blitar ini diharapkan dapat menghadirkan rasa nasionalisme bagi bangsa Indonesia yang hidup di masa pos-kemerdekaan dan mengenang kembali arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Diawali dengan sikap skeptis seorang Supriyadi (Daniel Pasaribu) muda yang kecewa melihat keadaan tanah airnya ditindas oleh bangsa Jepang setelah pasukan Belanda ‘mundur’ dari Indonesia, keadaan rakyat yang hidup menderita dan melarat terus berkepanjangan sampai-sampai tidak jarang dari mereka yang terpaksa menghalalkan segala cara demi sesuap nasi. Kemerdekaan itu seolah-olah sebuah mimpi nun jauh disana yang mustahil untuk diraih. Namaku Supriyadi mengajak para anak bangsa yang hidup di masa sekarang untuk menghargai dan meneruskan perjuangan kemerdekaan yang telah diperoleh Indonesia 64 tahun silam. Namaku Supriyadi mengambil setting kota Blitar tahun 1940an, dimana tentara Jepang masih merajalela dimana-mana: saat dimana rakyat Indonesia dipaksa bekerja keras (Romusha) dan tidak dapat menikmati hasil pekerjaan mereka sendiri karena harus diserahkan ke tangan Jepang. Kehidupan moral rakyat semakin merosot akibat beratnya tekanan penjajahan. Kejadian-kejadian tragis disekitarnya memaksa Supriyadi menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kehidupan keras seorang pencuri, Sari (Naftalia Adhis), yang terus-menerus mencuri untuk membiayai ibunya (Olivia Ompusunggu) yang sedang sakit, dan kehidupan rakyat Indonesia yang harus mengemis dan berkelahi untuk mendapatkan sedikit makanan. Semuanya itu membuat kemerdekaan layaknya sebuah khayalan muluk yang tak tergapai. Siapa sangka pertemuannya dengan seorang Surya (Bimandri Yosafat) dapat mengubah hati keras Supriyadi yang akhirnya bertekad memperjuangkan kemerdekaan. Supriyadi yang muak melihat penindasan bangsanya sendiri dan nyaris putus asa itu seperti mendapat kekuatan baru melihat semangat hidup Surya yang penuh pengharapan kepada Tuhan. Bersama dengan para tentara PETA lainnya, mereka bertekad untuk membawa Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan. Ternyata perjuangan itu tetap tidak semudah yang dibayangkan. Tanpa tekad yang bulat, masalah-masalah yang timbul dapat dengan mudah menghempaskan harapan itu. Mitsutani (Andi Sjaichudin) dan tentara Jepang lainnya yang bertindak semena-mena dan kehidupan rakyat yang tidak mau berubah, membuat Supriyadi harus menentukan sikapnya dengan tegas. Tahun 1945, kota Biltar, disinilah ia menemukan tujuan hidup dan cita-citanya, yaitu untuk merdeka dan meraih kemerdekaan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kesulitan dan tantangan bukan lagi sebuah penghalang bagi perjuangan gigih seorang Supriyadi, yang kini berjuang dengan harapan. Rakyat sudah cukup banyak mengalami ketidak-adilan dan penindasan dari bangsa asing. Penderitaan rakyat Indonesia harus dihentikan. “By the grace of God Almighty and impelled by the noble desire to live a free national life, the people of Indonesia hereby declare their independence.” Namaku Supriyadi (2009, Replique Production) tells the story of how the children of this nation fought hard, driven by their noble desire to see their homeland reach independence. This semi-fiction story is inspired by true experience of PETA (Lit. translation Homeland Defender) revolution leader in Blitar, and encourages the nationalism of Indonesian people who live in post independence era and conveys the true meaning of independence. The story starts with the scepticism of young Supriyadi (Daniel Pasaribu), who was disappointed with his nation state during Japanese invasion which took place after the Dutch 'retreats' from Indonesia. People are suffering and in a poor state – quite a number often forced themselves to steal just to get a mouthful of rice, independence was just a far-fetched dream, an impossible dream to reach. Namaku Supriyadi encourages the children of this nation who lives in the modern days to appreciate and continue the independence fight achieved by Indonesia 64 years ago. Namaku Supriyadi took place in town of Blitar during 1940 where Japanese army are everywhere: where Indonesian people were forced to do slave work (Romusha) and unable to enjoy the fruit of their hard labour. Supriyadi witnessed with his own eyes how the people’s morale subsided. The hard life of a thief, Sari (Naftalia Adhis) who had to steal to support her sick mother (Olivia Ompusunggu), and number of Indonesians who had to beg and fight for a little food, made the independent was just a simple dream. Who would have thought that his encounter with Surya (Bimandri Yosafat) could have changed Supriyadi’s stubbornness. Supriyadi was detemined to fight for independent after seeing Surya’s hopefullness. Supriyadi who gotten fed up of looking at injustice and enslavement of his people, empowered looking at Surya’s life. Along with his comrades and other PETA soldiers, they determined to bring Indonesia to the gate of independence. Unfortunately, this battle was not as easy as expected. Without steadfastness, those hopes got thrown away when problems occured. Mitsutani (Andi Sjaichudin) and other Japanese troops acted injusticely made Supriyadi decided to make a strong decision. Blitar, 1945. Supriyadi found his purpose in life and his dream of independent for him and the rest of the people. Diffculties and challenges did not stop Supriyadi who now fought with hopes. He trained harder with all PETA’s fighters after witnessing what Japanese troops had done. Injustice and people’s suffering had to be stopped. People had suffered enough because of this. Quizz
Cast
|
|||
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
| ![]() |
![]() |
![]() |
![]() |